_________ 
Logo FDIB
__________ 
  FDIB Scientific E-Zine @ 1-2001  
  Tema: Umum, Pendidikan

Pendidikan 
Setyo Nugroho
Technische Universität Berlin
 
 


Pada tanggal 14 Desember 1900, di gedung teater Gendarmenmarkt Berlin disampaikan sebuah presentasi yang pada tahun-tahun kemudian menjadi dasar bagi fisika modern. Yang membawa makalah tersebut adalah Max Planck, 42 tahun, berpendapat bahwa energi cahaya itu bisa diukur (quantified). Penemuan ini, Teori Quantum, menjadi benderang penerang dan stimulans pengembangan teori fisika modern di kemudian hari. 

Tak berlangsung lama, setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia I, kemudian berdiri Republik Weimar. Vitalitas berkarya para ilmuwan runtuh (setidaknya menurut patokan bangsa Jerman). Filosof Sprengler mengatakan keyakinan akan dunia yang aman dan tenteram runtuh, sehingga kreativitas para ilmuwan juga runtuh. Sprengler: " Aber zwei hundert Jahre Zivilisation und ORGIEN der Wissenschaftlichkeit dann hat man es satt. Nicht der Einzelne, die Seele der Kultur hat es satt. Sie drückt aus, indem sie ihre Forscher .. immer kleiner, enger, unfruchtbarer wählt in der Physik, wie in der Chemie, der Biologie, wie der Mathematik sind die grossen Geister tot ..". Belakangan Einstein mengakui pula hal ini. 

Pengalaman sejarah ini memberi gambaran betapa dekatnya hubungan antara kehidupan kemasyarakatan dengan politik dan kreativitas. Bagaimanakah dengan kita? Polanya tidak jauh berbeda, skalanya yang berbeda. 

Urania sebuah organisasi di Berlin yang secara teratur mengadakan presentasi-presentasi dan pertunjukan tentang ilmu pengetahuan, filsafat, kebudayaan dan kesenian, berslogan "Pengetahuan buat semua orang". Konsep "Pengetahuan buat semua orang" semacam ini yang tidak ada pada kita. Pengetahuan seharusnya bisa didapatkan dengan mudah, murah dan gampang dimengerti oleh khalayak luas. Dan pengetahuan bukan hanya bersemayam di perpustakaan perguruan tinggi saja. 

Berikut ini adalah contoh dari tanah air: Dengan menjelaskan sesuatu berbelit-belit, para sarjana dan kaum yang berpendidikan kita, untuk menunjukkan bahwa ilmunya adalah sulit. Dokter marah jika pasien banyak bertanya. Ketika Amerika Serikat sedang dirundung kekalutan hingga lima minggu setelah Pemilu pada 7 November 2000, media-media AS termasuk Washington Post, CNN dan New York Times tentu saja  menaruh berita Pemilu sebagai berita penting, tetapi bukan satu-satunya. Mereka masih menempatkan berita yang mendidik seperti misi pesawat ulang-alik sebagai berita utama. Sementara itu, majalah dan koran terkemuka di tanah air mengisi penuh halaman utama dengan berita politik nasional sejak tiga setengah tahun terakhir. 

Ekonom Jefrrey Sachs menulis bahwa negara yang mengikuti perkembangan teknologi berkesempatan lebih besar untuk meraih kemajuan ekonomi. 

Tahun 80-90an perhatian besar, tenaga dan dana di tanah air diarahkan kepada industrialisasi dan teknologi. Tahun-tahun mendatang mendatang, kita akan menyaksikan para pemilik kapal akan banyak memesan kapal dari bukan dari Indonesia, melainkan dari negara-negara seperti Vietnam. Karena apa? Antara lain adalah karena ilmu-ilmu kemasyarakatan (termasuk di antaranya sejarah, filsafat dan budaya) tersisih. Seorang teman yang belajar filsafat mengatakan, "Teknologi tidak bisa diambil hanya dengan memindahkan industri ke sebuah negara. Teknologi hanya bisa diraih jika masyarakat negara yang bersangkutan meningkatkan BUDAYA berteknologi". 

Merck menyisihkan untuk Penelitian dan Pengembangan (R&D) 2 Milyar dollar per tahun. Jumlah pinjaman-pinjaman Bank Dunia untuk penelitian (untuk negara berkembang, termasuk Indonesia) tidak sampai $200 juta. Universitas-universitas Amerika menerima donasi $25 milyar per tahun. Pemberantasan malaria di Afrika 50-75 juta dollar. Haruskah kita berkecil hati dengan angka2 ini?

Berlin, 16 Januari 2001
 
 



Nugroho, S. (2001). Pendidikan, Majalah Elektronik Ilmiah FDIB, Berlin, January 2001.
http://fdib.tripod.com/e-zine/ez-setyo.html
 

.

 
KEMBALI- --- --